Kamis, 29 Mei 2014

TM PPKn Kelas X semester 2



Tugas Mandiri PPKn Kelas X Semester 2

2013/2014
Kesadaran WNI – Pemilu



Created by :

Sekar Nadya Nabila Arie Marsha
(X IPA 9)

Seperti yang kita ketahui, tanggal 9 april 2014 lalu telah diselenggarakan pemilu legislatif. Bagaimana antusias masyarakat dalam pelaksanaan pemilu kali ini? Jumlah pemilih pada pileg kali ini mencapai (sekian) juta jiwa, tapi apakah semua pemilih bisa menggunakan hak pilihnya secara cerdas dan bijaksana?????


Semakin dekat dengan pemilu, semakin banyak partai politik yang mengampanyekan partai nya di berbagai media, salah satunya televisi. Iklan kampanye partai politik serasa kurang menarik jika hanya merayu masyarakat dengan inti “coblos partai kami”. Maka, parpol-parpol pun bermanis-manis janji untuk menarik simpati Warga Negara Indonesia.

Awal masa kampanye yang terlintas mungkin masih sekadar kata “jika partai kami terpilih, kami akan mensejahterakan Indonesia, kami anti korupsi, coblos partai kami!” ya bualan itu sudah tidak asing di telinga, walaupun janji tetap belum bisa menjadi bukti. Namun semakin dekat dengan pemilu, berbagai parpol yang pesimis atau yang masih kurang puas dengan dukungan simpatisan berusaha mengiming-imingi WNI pemilih dengan harapan-harapan yang entah itu palsu atau kosong. Salah satu partai poitik ada yang menjanjikan pada tahun 2019 penghasilan minimum pekerja Indonesia akan mencapai angka Rp. 5 juta / bulan. Kemudian disusul partai lain yang merasa masih kalah pamor, maka partai tersebut menjanjikan penghasilan minimum Rp. 12 juta / bulan. Pertanyaannya, mungkinkah?

Ada lagi partai politik yang sudah menjajah pertelevisian Indonesia jauh berbulan-bulan sebelumnya, dengan ambisi yang terlalu kuat partai politik itu pun memajang calon presidennya sebagai bintang iklan. Garuda dan macan pun mereka ajak masuk ke dalam dunia politik dan menjadi maskot yang tak berdosa dari kampanye mereka. Akhir-akhir masa kampanye partai yang nampaknya agak kesal dengan calon presiden dadakan dari partai yang pernah menjadi pasangan koalisinya pada pilpres 2009 ini lebih keras berkampanye, menjejali masyarakat yang benar-benar tidak tahu harus menggunakan hak pilihnya untuk memilih partai mana dengan iklan yang berulang-ulang secara jelas dan tegas berbunyi “coblos partai *sensor*, kepala garuda, nomor urut *sensor*”. Masyarakat Indonesia yang belum punya pilihan dan sering menonton televisi kemudian hafal kalimat terakhir dari iklan yang sangat gamblang itu, bisa tersugesti sehingga nanti di TPS yang terngiang-ngiang di benak nya adalah iklan tersebut dan partai tersebut lah yang dipilih.

Segala macam cara dilakoni para caleg untuk mendapatkan ‘Kursi ATM’ yang jika diduduki bisa memberikan apapun yang diinginkannnya. Uang basah seakan-akan bisa membasuh telapak tangan dari jabat tangan munafik mereka. Memang tidak semuanya seperti itu, tapi malaikat yang berada di tengah lingkaran setan tidak mampu berbuat apapun. Seperti yang kita lihat, banyak juga orang-orang bersih yang memang sungguh-sungguh berkeinginan untuk membangun bangsa malah difitnah, dijatuhkan, dan dijebloskan. What kind of country it is?!

Money politics pun dijadikan paku pemilih untuk mencoblos kertas suara, yang tidak lain dan tidak bukan juga merupakan kendaraan mereka menuju RSJ. Entah mengapa mereka hanya membuat 2 pilihan untuk hidupnya, yang pertama terpilih dan mendapatkan segalanya, atau yang kedua gagal menduduki kursi tersebut, uang habis, rumah dan mobil terjual habis, hutang dimana-mana, dan kemudian depresi berat. Tak hayal lagi, sejak quick count menunjukkan hasil suara sementara, satu per satu rumah sakit jiwa dan ustadz sibuk menangani para caleg gagal yang stress.

Apa lagi sih yang kurang dari para caleg itu ? segala macam cara telah mereka lakukan untuk mengambil hati dan hak kebebasan rakyat. Dari mulai serangan fajar, sembako politics, dsb. Lalu, kenapa mereka mau mengeluarkan modal yang begitu besar untuk mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif? Apakah gaji anggota DPR RI / DPRD selama 5 tahun mampu menutupi modal yang telah mereka keluarkan untuk berkampanye ria? Lantas, apa yang mendasari mereka mau mempertaruhkan harta mereka dalam perjudian politik kotor ini? Apa karena balik modal yang sangat menjanjikan dan keuntungan berlipat dari proyek-proyek illegal yang dilengkapi dengan fasilitas KKN yang nyaman dan leluasa jika mereka bisa menduduki kursi kemang? Wallahu a’lam