Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mandiri Bahasa Indonesia
Sekar Nadya Nabila Arie Marsha
X IPA 9 / SMAN 3 Bandung
[Doc. 15 Desember 2013]
[Potongan dari Dokumen Pribadi Penulis dengan Bentuk Asli Berupa Makalah]
Melemahnya
pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Eropa, mulai berimbas ke Indonesia,
dengan turunnya ekspor. Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2012 masih
bisa mencapai 6,23% dan merupakan salah satu yang tertinggi di Asia setelah
China yang tumbuh sebesar 7,8%, namun lebih rendah dari asumsi Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 sebesar 6,5%. Pertumbuhan ini juga
lebih rendah dibandingkan tahun 2011 yang mampu mencapai 6,5%. Adapun nilai PDB
Indonesia atas dasar harga konstan 2000 pada tahun 2012 mencapai IDR 2.618,1
trilyun, naik sebesar IDR 153,4 trilyun dibandingkan tahun 2011 yang mencapai
IDR 2.464,7 trilyun.
Berdasarkan
penggunaannya, laju pertumbuhan sektor tertinggi pada tahun 2012 terjadi pada
komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik sebesar
9,81%. Meski mengalami laju pertumbuhan tertinggi, secara kuartalan pertumbuhan
sektor PMTB mengalami penurunan cukup signifikan. Pada kuartal IV 2012 secara
year on year, sektor PMTB tumbuh sebesar 7,29% menurun dibandingkan kuartal
sebelumnya yang mampu mencapai pertumbuhan sebesar 9,80%. Bahkan pada kuartal
II 2012 PMTB tumbuh sebesar 12,47%. PMTB memilikimultiplier efek yang luas
karena tidak hanya mendorong sisi produksi, namun juga menstimulasi sisi
konsumsi. PMTB akan mendorong pembukaan dan perluasan lapangan kerja,
peningkatan pendapatan masyarakat, yang nantinya akan menstimulasi konsumsi
masyarakat.
Selain PMTB,
pertumbuhan ekonomi di tahun 2012 juga ditopang oleh Konsumsi Rumah Tangga, tercatat
tumbuh sebesar 5,28%. Sedangkan, sektor Konsumsi Pemerintah yang diharapkan memberikan
sumbangan optimal pada pertumbuhan ekonomi nasional hanya tumbuh sebesar 1,25%.
Sementara
itu, tekanan pelemahan ekonomi global berimbas pada melambatnya ekspor nasional
karena berkurangnya permintaan dari negara tujuan ekspor. Di tahun 2012 ekspor
Indonesia tercatat tumbuh sebesar 2,01%. Sementara itu, impor tumbuh jauh lebih
tinggi yaitu sebesar 6,65%. Secara kuartalan, di kuartal IV 2012, impor
Indonesia meningkat pesat, tumbuh sebesar 6,79% padahal pada kuartal sebelumnya
mengalami pertumbuhan minus 0,17%. Peningkatan impor ini diakibatkan oleh
meningkatnya impor non migas dan migas. 1
Selain itu,
kenaikan impor juga dipengaruhi oleh meningkatnya impor bahan baku dan barang
modal. Di tahun 2012, impor bahan baku tercatat sebesar IDR 140.127,6 juta,
atau tumbuh 7,02% dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar IDR
130.934,3 juta.
Sementara
itu, impor barang modal di tahun 2012 mencapai IDR 38.154,8 juta, tumbuh
sebesar 15,24% dibandingkan tahun 2011 yang tercatat sebesar IDR 33.108,4 juta.
Laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dibandingkan komponen ekspor
menyebabkan Indonesia masih mengalami defisit neraca perdagangan.
Dalam kondisi
perekonomian global yang tidak menentu, nampaknya Indonesia masih akan
mengandalkan konsumsi dalam negeri dan investasi untuk menggenjot pertumbuhan
ekonominya di tahun 2013 ini karena kontribusi ekspor belum bisa diharapkan
akibat permintaan global yang sedang menurun.
Dari sisi lapangan usaha, 9 sektor lapangan usaha
mencatat pertumbuhan positif pada tahun 2012. Di tahun 2012, sektor
Pengangkutan dan Komunikasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,98%
diikuti sektor Perdagangan, Hotel, dan Restoran yang tumbuh sebesar 8,11%,
serta sektor Konstruksi sebesar 7,50%. Adapun pertumbuhan terendah dialami oleh sektor Pertambangan
dan Penggalian, tumbuh sebesar 1,49% di tahun 2012. Hal ini disebabkan oleh
turunnya harga komoditas pertambangan.
Sementara
itu, di kuartal IV 2012, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh seluruh
sektor. Namun, pertumbuhan paling kecil dialami oleh sektor Pertambangan dan
Penggalian, tercatat sebesar 0,48%. Di kuartal IV 2012, terdapat 6 sektor yang
memiliki pertumbuhan melebihi angka pertumbuhan PDB yang tumbuh sebesar 6,11%
seperti sektor Pengangkutan dan Komunikasi yang tumbuh 9,63%, sektor
Perdagangan, Hotel dan Restoran tumbuh 7,80%, sektor Konstruksi dan Pengolahan
masing-masing tumbuh sebesar 7,79%, sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa
Perusahaan tumbuh 7,66%, serta sektor Listrik, Gas dan Air Bersih tumbuh
sebesar 7,25%.
Meski laju
pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, kondisi ketenagakerjaan Indonesia pada
Agustus 2012 menunjukkan keadaan yang lebih baik dibandingkan dengan kondisi
ketenagakerjaan periode sebelumnya. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat
pengangguran yang semakin menurun. Tingkat pengangguran Indonesia pada bulan
Agustus 2012 menurun dibandingkan dengan tingkat pengangguran Indonesia pada
bulan Februari 2012. Pada bulan Agustus 2012 tingkat pengangguran Indonesia
sebesar 7,24 juta atau 6,14%, sedangkan pada bulan Februari 2012 sebesar 7,61
juta atau 6,32%. Tingkat pengangguran Indonesia pada bulan Agustus 2012 juga
lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat pengangguran pada bulan yang sama
tahun sebelumnya tercatat mencapai 6,56%. Turunnya tingkat pengangguran
Indonesia, nampaknya juga didukung oleh persentase jumlah angkatan kerja
Indonesia yang menurun pada bulan Agustus 2012. Pada bulan Agustus 2012
persentase angkatan kerja Indonesia adalah 67,88% menurun dari Februari 2012
yaitu 69,66%.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar